Cara Menulis Kutipan

Dalam penulisan karya tulis seringkali mencatumkan istilah atau pendapat yang telah lebih dulu disampaikan oleh orang lain sebagai referensi. Berikut adalah tata cara dalam menulis kutipan pada karya tulis

1. Cara Merujuk Kutipan Langsung

a. Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata, dan nama penulis disebutkan pada bagian awal kalimat, maka nama penulis ditulis lengkap diikuti tahun terbit dan nomor halaman dalam tanda kurung, sedangkan kutipan langsung ditulis di antara tanda kutip (“….”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama.

Contoh:

Alferd Adler (1986:7) menyatakan: “Individu yang tidak tertarik kepada kawan-kawannlah yang memiliki kesulitan terbesar dalam hidup dan memberi luka kepada orang lain.”

b. Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata dan nama penulis ditulis di bagian akhir kutipan, maka kutipan langsung ditulis dalam tanda petik dua (“….”) dan nama akhir penulis, diikuti tahun terbit, tanda titik dua, dan nomor halaman dalam tanda kurung.

Contoh:

Seorang psikolog terkenal dari Vienna menyatakan: “Individu yang tidak tertarik kepada kawan-kawannylah yang memiliki kesulitan terbesar dalam hidup dan member luka kepada orang lain.” (Adler, 1986:7).

c. Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip dan ditulis terpisah dari teks yang mendahului, ditulis menjorok ke depan 1,2 cm dar margin kiri dan kanan, dan diketik dengan spasi tunggal.

Contoh:

Untuk memberikan semangat kepada para karyawannya karena tekanan berbagai kesibukan, sebuah toserba di New York City menyajikan iklan-iklannya berupa filsafat bersahaja berikut.

Nilai sebuah senyuman

Dia tidak meminta bayaran, namun menciptakan banyak.

Dia memperkaya mereka yang menerimanya, tanpa membuat melarat mereka yang memberinya.

Dia menciptakan kebahagiaan di rumah, mendukung niat baik dalam bisnis, dan merupakan tanda balasan dari kawan-kawan.

Dia member istirahat untuk rasa letih, sinar terang untuk rasa putus asa, sinar mentari bagi kesedihan, dan penagkal alam bagi kesulitan. (dalam Carnegie, 1981:69)

2. Cara Menulis Kutipan Tidak Langsung

Kutipan yang disebut secara tidak langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis, ditulis tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama penulis dari sumber yang dikutip dapat ditulis di awal kutipan dengan disertai tahun terbit dan nomor halaman dalam kurung atau nama penulis ditulis di akhir kutipan diikuti tahun dan nomor halaman yang semuanya dalam kurung.

Contoh:

Dale Carnegie (1981:61) menyatakan bahwa kesungguhan menaruh minat pada orang laaain adalah kunci sukses untuk mengembangkan persahabatan, disukai orang lain, dan menolong orang lain dan diri sendiri.

Atau

Kesungguhan menaruh minat pada orang lain adalah kunci sukses untuk mengembangkan persahabatan, disukai orang lain, dan menolong orang lain dan diri sendiri (Carnegie, 1981:61)

Prinsip Perancangan Bangunan Tahan Gempa

Indonesia merupakan negara yang termasuk dalam jalur gempa berbahaya, maka dalam mendesain sebuah bangunan harus memperhatikan adanya pengaruh gempa dan kerugian-kerugian yang ditimbulkan. Ir. Ign. Benny Puspantoro, M.Sc dalam bukunya yang berjudul “Konstruksi Bangunan” menyebutkan prinsip-prinsip utama yang harus dipenuhi dalam merancang bangunan tahan gempa yang meliputi denah, material bangunan, dan strukur-struktur pada bangunan.

Mendesain bangunan tahan gempa pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk membuat seluruh elemen bangunan menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak mudah roboh akibat gempa. Konsep bangunan tahan gempa yang diterapkan dalam proses desain meliputi rancangan denah, pemilihan material bangunan, dan struktur-struktur utama bangunan. Selain itu, konsep desain bangunan tahan gempa juga mengacu pada pemanfaatan material setempat, budaya masyarakat yang berperan dalam proses membangun rumah, serta aspek kemudahan dalam pelaksanaan di lapangan.

Beberapa konsep utama dalam konstruksi bangunan tahan gempa antara lain:

1. Denah Bangunan yang Simetris

Dalam mendesain sebuah bangunan, langkah awal yang dilakukan adalah menuangkan ide atau gagasan dalam sebuah sketsa. Selanjutnya merealisasaikan sketsa tersebut menjadi maket yang memberikan kejelasan informasi mengenai skala yang sesuai. Dalam rancangan bangunan diperlukan gambar denah bangunan secara keseluruhan yang menunjukkan potongan bangunan setinggi 1 meter dari lantai. Denah bangunan memberikan kejelasan mengenai fungsi ruang, susunan ruang, dimensi ruang, letak pintu dan bukaan-bukaan lainnya, isi ruang, dan fungsi utilitas ruang.

Khusus pada bangunan tahan gempa denah bangunan perlu didesain secara simetris. Berdasarkan pengamatan pada kerusakan bangunan akibat gempa, diketahui bahwa struktur bangunan yang demikian dapat menahan gaya gempa. Struktur seperti ini juga mengurangi efek gaya torsi yang ditimbulkan saat terjadi gempa. Denah yang simetris memungkinkan pembagian kekuatan yang merata pada setiap bagian bangunan. Dengan adanya pemerataan tersebut, maka bangunan tidak akan mudah roboh saat terjadi gempa.

Selain denah, elemen lain yang perlu dirancang secara simetris terhadap sumbu bangunan adalah perencanaan ruang, penempatan dinding-dinding penyekat, serta lubang-lubang pintu dan jendela.

2. Material Bangunan yang Ringan

Alam semesta telah menyediakan material-material yang mampu dimanfaatkan dalam proses perancangan bangunan. Akan tetapi manusia harus tetap mengasah kreativitasnya untuk menciptakan material-material yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam proses pemilihan material bagi rancangan bangunan tahan gempa perlu memperhatikan faktor berat material tersebut. Material yang sebaiknya digunakan adalah material yang ringan namun kuat. Hal ini sesuai dengan konsep bahwa beban inersia gempa sebanding dengan berat bahan bangunan tersebut.

3. Sistem Konstruksi Penahan Beban yang Memadai

Agar suatu bangunan dapat menahan gempa, maka bangunan trsebut harus mampu menyalurkan setiap gaya inersia akibat gempa dari elemen-elemen struktur bangunan utama kemudian memindahkannya ke pondasi yang ada di dalam tanah. Struktur utama penahan gaya horizontal akibat gempa harus elastis, karena jika batas kekuatan elastisitas telah dilampaui maka tidak akan terjadi keruntuhan getas secara tiba-tiba, melainkan pada beberapa tempat terlebih dahulu. Dalam proses menyalurkan gaya dari elemen struktur ke pondasi terdapat sebuah jalur yang disebut lintasan gaya. Setiap bangunan harus memiliki lintasan gaya yang cukup kuat untuk dapat menahan gaya gempa horizontal.

Dalam rancangan sebuah bangunan terdapat tiga bagian utama yaitu atap, dinding, dan pondasi. Berikut adalah sistem struktur atap, dinding, dan pondasi pada bangunan tahan gempa:

1. Struktur Atap

Pada struktur atap yang menahan beban gempa dalam arah horizontal, jika tidak terdapat batang pengaku di dalamnya maka bangunan tersebut akan runtuh jika terjadi gempa bumi. Apabila bangunan tersebut cukup lebar maka diperlukan setidaknya 2 hingga 3 batang pengaku pada tiap-tiap ujung bangunan. Tetapi perlu diperhatikan bahwa batang pengaku ini harus memiliki sistem menerus sehingga gaya dapat dialirkan ke ring balok pada ketinggian langit-langit. Gaya-gaya dari batang pengaku dan beban saling tegak lurus bidang pada dinding sehingga menghasilkan momen lentur pada ring balok. Apabila panjang dinding pada arah lebar lebih besar dari 4 meter, maka diperlukan batang pengaku horizontal pada sudut untuk memindahkan beban dari batang pengaku pada bidang tegak dinding dalam yang merupakan  elemen-elemen struktur yang menahan beban gempa utama.

Material atap yang digunakan harus material yang ringan namun kuat. Kuda-kuda menggunakan material dari kayu sedangkan atap menggunakan seng. Metode sambungan yang digunakan sangat sederhana, hal ini untuk mempermudah masyarakat dalam mencontoh metode tersebut. Untuk memperkuat hubungan antara batang serta menjaga stabilitasnya, maka hubungan antara batang membentuk segitiga. Hubungan antara kuda-kuda yang satu dengan kuda-kuda lainnya menggunakan batang pengaku dan batang pengaku di badan bangunan yang biasa disebut dengan batang lintel. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah sambungan antar batang horizontal jangan terletak pada titik kritis, hal ini untuk menghindari terjadinya lendutan antara sambungan tarik dan sambungan tekan.

2. Struktur Dinding

Dinding yang digunakan merupakan perpaduan antara kebiasaan masyarakat setempat yang menggunakan material kayu dan dinding yang terbuat dari batu-bata. Untuk menyatukan dinding dengan kolom maupun sloof, dipergunakan angker yang dipasang pada jarak 0.3 meter. Untuk mengatasi adanya gaya horizontal akibat gempa, maka pada dinding di pasang pengikat silang sebagai pengaku. Setiap bukaan yang cukup lebar seperti pintu dan jendela harus dipasang balok lintel. Dalam desain bangunan ini balok lintel disatukan dengan kayu kusen atas.

Dalam dinding terdapat penguat-penguat yang disebut kolom. Kolom menggunakan material kayu dengan ukuran yang ada di pasaran yaitu ukuran 2 x 5/10. Dengan menggunakan ukuran yang ada dipasaran, dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh material tersebut. Untuk menahan gaya geser akibat gempa, maka pada ujung bawah kolom dipasang plat berbentuk U yang ditanam dalam adukan beton sloof.

Untuk menjamin adanya satu kesatuan antara kolom dengan rangka kuda-kuda, maka salah satu batang diagonal kuda-kuda dipanjangkan sampai ke kolom. Sementara itu untuk menghindari terlepasnya kusen pintu/jendela, maka batang horisontal kusen pintu/jendela.

3. Struktur Pondasi

Struktur pondasi merupakan bagian dari struktur yang paling bawah dan berfungsi untuk menyalurkan beban gempa dari dinding ke tanah. Pondasi harus dapat menahan gaya tarik vertikal dan gaya tekan dari dinding. Untuk itu pondasi harus diletakkan pada tanah yang keras. Kedalaman minimum untuk pembuatan pondasi adalah 6-75 cm. Pasangan batu kali sering digunakan untuk pondasi dan dikerjakan setelah lapisan pasir urug dan aanstampeng (pasangan batu kosong) selesai dipasang. Pondasi juga harus mempunyai hubungan yang kuat dengan sloof. Hal ini dapat dilakukan dengan pembuatan angkur antara sloof dan pondasi yang memiliki jarak 1 m. Angkur dapat dibuat dari besi berdiameter 12 mm dengan panjang 20 -25 cm. Pondasi yang menggunakan sistem pondasi batu kali menerus, terdapat hubungan antara sloof dengan pondasi dipergunakan angker setiap 0.5 meter. Hal ini dimaksudkan supaya ada keterikatan antara pondasi dengan sloof, sehingga pada saat terjadinya gempa ikatan antara pondasi dengan sloof tidak dapat lepas.

sumber: Puspantoro, Benny. 1996. Konstruksi Bangunan Gedung Tidak Bertingkat. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Mahasiswa Atma Jaya.

Alas Kakimu Tumpuan Hidupmu

oleh: Septi Triana

Kesehatan jiwa dan raga seharusnya menjadi perhatian utama bagi semua orang. Namun terkadang manusia melupakan hal kecil yang sebenarnya memiliki peran penting dalam kesehatan. Hal sepele seperti alas kaki yang setiap hari kita gunakan ternyata juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh.

Bagi seorang wanita, alas kaki terutama sepatu adalah cerminan harga diri mereka. Alas kaki sebagai pelengkap penampilan dan menjaga kaki agar tetap dalam keadaan bersih. Sedangkan pada umumnya, alas kaki adalah produk sepatu atau sandal yang biasa digunakan untuk melindungi kaki dari cedera. Cedera tersebut dapat disebabkan oleh kondisi permukaan tanah yang berbatu-batu, berair, dan udara yang panas maupun dingin.

Alas kaki dibuat oleh seorang pengrajin atau diproduksi di pabrik. Bahan baku pembuatan alas kaki antara lain kayu, plastik, karet, kulit, tekstil, atau serat tanaman. Alas kaki seperti sepasang sandal bisa dibuat oleh pengrajin hanya dengan menggunakan peralatan yang sederhana seperti pisau, jarum, dan benang. Sementara itu, alas kaki buatan pabrik diproduksi dengan bantuan mesin-mesin yang canggih.

Dari anak-anak hingga dewasa selalu menggunakan alas kaki untuk sebagian besar aktifitas yang mereka lakukan, terutama untuk aktifitas di luar ruangan. Alas kaki itu, baik sandal maupun sepatu memiliki model yang beragam. Namun model yang beragam tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Faktanya, banyak sekali model sepatu terutama sepatu bagi orang dewasa yang justru dapat mencederai pemakainya.

Jika si pemakai sepatu adalah seorang publik figur, mereka lebih mengutamakan model sepatu daripada keamanan dan kenyamanan. Tidak hanya mencederai secara fisik, tetapi juga akan mencederai harga diri si pemakai. Masih ingat dengan kejadian memalukan yang dialami oleh Lady Gaga? Pada tanggal 23 Juni lalu saat ia tiba di bandara Heatrow, London, Lady Gaga mengenakan sepatu hak super tinggi, 25 centimeter. Ia terjatuh, namun berhasil bangun kembali sambil menahan rasa malunya. Saat terjatuh, Gaga mengenakan sepatu rancangan Noritaka Tatehana. Dibutuhkan seluruh rombongan tur musik untuk membuatnya kembali berdiri. Tetapi kejadian memalukan ini tidak membuatnya jera mengenakan alas kaki yang ekstrim.

Sebagian konsumen sepertinya juga tidak peduli dengan bahaya ini. Mereka cenderung hanya memperhatikan model yang sedang menjadi trend tanpa mempedulikan akibatnya bagi kesehatan diri mereka. Trend alas kaki saat ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan jika digunakan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Penggunaan alas kaki yang tidak cocok akan mengubah gaya berjalan pemakainya dan memicu terjadinya masalah pada rangka lutut, pinggul, dan sakit punggung. Ironisnya, produsen-produsen alas kaki tersebut hanya memproduksi alas kaki berdasarkan permintaan pasar. Dengan harapan untuk mendapat keuntungan yang besar, produsen mengabaikan kebutuhan pokok manusia, yaitu kesehatan.

Jika ditanya tentang alas kaki apa yang paling nyaman, mungkin sebagian besar orang akan menjawab sandal jepit adalah yang ternyaman. Secara sepintas sandal jepit memang terlihat santai dan efisien, karena tidak memakan banyak waktu untuk mengenakannya. Sandal jepit juga memberi keleluasaan bagi jari-jari kaki untuk bergerak.

Ternyata kenyamanan bukanlah ukuran dari segalanya. Kata Mike O’Neill, Juru bicara Asosiasi Chiropodis dan Podiatrik dari Inggris, pemakaian sandal jepit dalam jangka panjang menyebabkan nyeri pada tendon di bagian dalam kaki dan tungkai bawah. Hal ini dapat merangsang terjadinya pergeseran tulang kering dan nyeri pada sendi. Keluhan yang paling sering terjadi akibat pemakaian sandal jepit adalah pergelangan kaki menjadi bengkok. Bentuk sandal jepit yang terbuka tanpa ada pelindung juga bisa mencederai kaki jika pemakainya terantuk batu atau sejenisnya. Sandal jepit dengan bentuk alasnya yang datar tidak dapat memberikan dukungan yang cukup terhadap kaki jika digunakan untuk melintasi permukaan yang datar dan keras. Akibatnya, lengkungan telapak kaki, ligamen dan otot-otot kaki menjadi tegang. Tekanan yang tidak normal ini akan menimbulkan rasa kram di kaki.

Fakta-fakta ini seharusnya menggugah kesadaran para konsumen untuk berpikir cerdas sebelum memilih alas kaki yang tepat dan sesuai bagi mereka. Karena konsumen adalah raja, maka konsumen mendapat kebebasan untuk memilih yang terbaik. Bagaimanakah caranya menjatuhkan pilihan pada sebuah sepatu atau sandal yang tepat? Apakah cukup hanya dengan memilih alas kaki yang tepat saja tanpa tahu bagaimana cara memperlakukan mereka dengan benar?

Pertama, alas kaki yang baik adalah alas kaki yang mengikuti bentuk kaki. Masing-masing orang memiliki bentuk dan ukuran kaki yang berbeda. Bahkan antara kaki kanan dan kaki kiri seseorang memiliki ukuran yang berbeda. Memilih alas kaki berdasarkan bentuk dan ukuran yang sesuai mengandung pelajaran berharga bahwa hidup kita akan nyaman jika kita memperlakukan segala sesuatu sesuai dengan keadaan, tanpa sengaja menambah atau mengurangkannya. Coba bayangkan jika kita memakai sepatu yang berukuran terlalu besar atau terlalu sempit, pasti kita akan merasa tidak nyaman. Begitu juga dalam menjalani hidup, kita harus meyakini bahwa Tuhan telah memberikan anugerah sesuai dengan yang kita butuhkan. Kita hanya perlu mengolahnya namun jangan terlalu berlebihan.

Sebelum membeli sepatu atau sandal, kita harus mencobanya terlebih dahulu pada kedua kaki. Alas kaki tersebut harus memiliki sol yang berpola dan bertekstur di permukaan dalamnya. Karena sol pada sepatu atau sandal berfungsi sebagai pijakan yang sempurna bagi lengkungan telapak kaki. Dengan begitu berat tubuh bisa disalurkan secara merata ke seluruh kaki. Permukaan dalam sepatu harus lunak dan lentur agar kaki kita tidak mudah lecet. Untuk mengurangi risiko kaki lecet, bisa dengan menggunakan krim pelembab kaki sebelum kita memakai alas kaki untuk waktu yang lama. Selain itu, penting bagi kita untuk mengenakan kaos kaki. Kaos kaki berfungsi sebagai penyerap keringat dan kelembapan sehingga kaki menjadi lebih bersih dan higienis. Kaos kaki harus terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat dan lembut agar tidak melukai kaki.

Bagi anak-anak usia sekolah, sepatu sekolah adalah yang paling sesuai. Jenis sepatu ini cukup aman jika digunakan setiap hari karena terbuat dari bahan-bahan alami yang tidak berbahaya. Selain itu, sepatu sekolah juga dilengkapi dengan tali sepatu. Tali sepatu yang terpasang dengan benar membuat sepatu menjadi stabil, sehingga tidak akan mudah lepas jika pemakainya adalah anak-anak yang cenderung aktif.

Kedua, karena alas kaki adalah pelindung kaki dari cedera, maka kita harus memilih alas kaki yang terbuat dari bahan-bahan yang aman dan nyaman. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan alas kaki bermacam-macam menurut jenisnya. Masing-masing bahan tersebut akan mempengaruhi berat sepatu, kekuatannya, kemampuan “bernapas”nya, dan ketahanannya terhadap air.

Alas kaki dari bahan yang ringan seperti pastik, tentu saja tidak akan menambah beban pada kaki saat dikenakan. Hal ini membuat pemakainya tidak cepat merasa lelah saat beraktivitas. Alas kaki dengan kemampuan “bernapas” yang baik atau breathable membuatnya cocok jika dikenakan saat cuaca hangat hingga sedang. Alas kaki seperti ini jika basah, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeringkannya.

Selain ringan, alas kaki juga harus kuat dan tahan air. Seiring dengan perkembangan teknologi, kemampuan alas kaki untuk tahan terhadap air juga semakin meningkat. Produsen-produsen alas kaki yang peduli kesehatan menambahkan lapisan tahan air seperti outdry, sehigga alas kaki menjadi lebih tahan air. Meskipun begitu, tingkat ketahanan air masing-masing alas kaki juga ditentukan oleh perawatannya. Jika perawatannya benar, maka lapisan tahan air tersebut akan bertahan lebih lama. Oleh sebab itu, selalu perhatikan aturan perawatan alas kaki.

Ketiga, alas kaki juga memerlukan perhatian khusus, terutama masalah kebersihannya. Oleh karena itu kita harus merawat sepatu atau sandal yang kita miliki secara rutin. Kualitas alas kaki yang kita kenakan dapat mencerminkan seberapa besar rasa penghargaan kita terhadap diri sendiri. Jika kita memperhatikan hal-hal seperti ini, secara otomatis orang lain juga akan menghargai penampilan kita. Alas kaki yang terawat dengan baik akan nyaman jika dikenakan. Sehingga menambah daya tarik penampilan dan rasa percaya diri.

Hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam merawat alas kaki terutama sepatu adalah semir sepatu. Sepatu harus dalam keadaan bersih dan kering sebelum menyemirnya. Karena kondisi alas kaki yang lembab adalah tempat yang sempurna bagi bakteri dan kuman untuk berkembang biak. Sepatu menjadi bau dan tidak nyaman dikenakan. Untuk menghilangkan bau pada sepatu, bisa dengan menggunakan taburan baking soda saat malam hari, kemudian bersihkan taburannya saat pagi hari.

Seperti yang telah disebutkan oleh Dr. Charles Gerba, seorang ahli mikrobiologi dan profesor dari University of Arizona, alas kaki yang lembab juga mengandung bakteri mematikan Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, dan Serratia ficaria. Ketiganya mengakibatkan penyakit berbahaya seperti sakit perut yang parah disertai dengan diare, gagal ginjal, pneumonia, infeksi aliran darah, infeksi saluran pernapasan, dan kandung empedu. Dengan menyadari adanya bahaya seperti ini, diharapkan kita melepaskan alas kaki jika dalam keadaan basah dan menggantinya dengan alas kaki yang kering.

Saat musim penghujan, kita sering dibuat jengkel dengan noda lumpur yang menempel pada alas kaki. Kita harus menunggu hingga noda lumpur itu kering sebelum mencucinya. Sinar matahari langsung saat menjemur alas kaki juga dapat membuat warnanya cepat memudar. Sediakan tempat penyimpanan khusus bagi koleksi-koleksi alas kaki kita. Susun dengan rapi dan bersihkan dari debu secara rutin.

Pemilihan alas kaki yang tepat adalah salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesehatan. Dalam memilih alas kaki perlu disesuaikan dengan bentuk dan ukuran kaki masing-masing. Alas kaki yang dirawat dengan baik akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi pemakainya. Dengan membiasakan diri untuk mengenakan alas kaki, dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan tubuh.

Sayangnya, beberapa orang sering berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki dengan alasan untuk meregangkan otot-otot telapak kaki dan melancarkan peredaran darah. Di sisi lain, berjalan tanpa alas kaki justru meningkatkan risiko cedera pada lutut dan pergelangan kaki. Oleh karena itu alas kaki wajib digunakan baik di dalam maupun di luar ruangan.

Pernahkah mendengar istilah clavus atau mata ikan? Berjalan tanpa alas kaki meskipun di dalam ruangan membuat kaki rentan terhadap serangan benda asing. Mata ikan memang tidak berbahaya, namun penebalan kulit atau kapalan yang ditimbulkan oleh mata ikan sangatlah tidak nyaman. Bahkan untuk menghilangkannya harus melalui tindakan pembedahan.

Dengan demikian, apakah kaitan antara memilih alas kaki yang tepat dengan sikap kita dalam menjalani hidup? Sepasang kaki kita adalah anugerah yang berharga dari Tuhan Yang Mahakuasa. Kaki dapat membawa kita ke manapun tujuan yang kita inginkan. Langkah kaki kita juga bisa menentukan ke mana arah hidup kita. Jadi, tidak ada salahnya jika kita memulai langkah hidup kita dengan memilih alas kaki yang tepat.

Pengantar Teknologi Informasi dan Komunikasi

Di era globalisasi seperti saat ini kebutuhan akan teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Manusia kian membutuhkan teknologi untuk mampu mengetahui segala informasi di dunia. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu inovasi yang mempermudah komunikasi antar manusia. Teknologi Informasi merupakan perpaduan antara teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi, sehingga lebih tepat jka disebut dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Teknologi Informasi dan Komunikasi memeiliki beberapa karakteristik yakni mampu menyediakan informasi yang mudah diakses oleh pengguna, memiliki siklus pembaruan yang cepat dengan waktu untuk merespon yang singkat.

Untuk mempelajari Teknologi Informasi secara lebih mendalam diperlukan suatu metode pembelajaran, baik formal maupu nonformal. Untuk kalangan di lingkungan formal seperti di sekolah atau di kampus ada sebuah materi pembelajaran Teknologi Informasi yang biasanya dikenal dengan sebutan Pengantar Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK). Dalam PTIK disampaikan materi-materi dasar yang berhubungan dengan dunia teknologi, informasi, dan komunikasi. Mulai dari definisi, histori, perangkat atau elemen yang terkait, hingga etika-etika dalam dunia teknologi informasi.